Selamat Datang Ramadhan, Selamat Jalan Bapak
Agustus 21st, 2008 by madirwanSebenarnya ini adalah ungkapan perasaan hati saya yang paling dalam dikala menyambut datangnya Ramadhan.
Saat itu Ramadhan tahun 2005, kami berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, dan keluarga kami juga termasuk korban “permasalahan yang tidak pernah usai pro kontranya, Poligami“. Sejak Ramadhan tahun 2001 kondisi keluarga kami carut marut tak menentu kemana arahnya, setiap hari suasana panas terjadi di rumah. Itu terjadi semenjak seluruh keluarga mengetahui bahwa Bapak berpoligami sudah 11 tahun, tanpa berpikir panjang dan langsung mengambil sikap kami pun semua memusuhi Bapak. Bapak yang dahulu menjadi teman, tempat berlindung dan panutan kami sekeluarga bahkan panutan dari kakek, uwa, paman, bibi, tante, seluruh keluarga besar kami bahkan lingkungan, saat itu kami semua memusuhinya.
Selama 4 tahun hidup kami terasa hambar, tanpa canda tawa, tanpa senda gurau dan yang lebih parah lagi seakan pintu rejeki keluarga sudah tertutup karena tidak adanya keharmonisan dalam rumah tangga. Dan saat itu Bapak kelihatan seperti orang yang tersisihkan.
Sampai akhirnya datang Ramadhan tahun 2005, hampir 1 bulan penuh Bapak tidak pulang kerumah selama bulan Ramadhan, Bapak menjalankan ibadah puasa bersama istri dan adik2 kami di sana. Saya tidak tahu darimana Bapak menafkahi mereka semua karena Bapakku hanya lah seorang mandor yang pernah sukses menjalankan perusahaannya.
Hari itu hari ke-28 bulan Ramadhan, hari senin. Bapak pulang kerumah pagi hari disaat saya mau berangkat kerja, karena saya masih diliputi perasaan kecewa saya tidak menyapanya sama sekali. Malamnya mamah bercerita habis memarahi Bapak, dan Bapak tidak berkomentar sama sekali hanya bilang “mah, bapak jangan dimarahin terus, umur bapak tinggal 3 hari lagi loh.., bapak juga ga mau ditinggalin sama anak2″. Setelah berkata seperti itu akhirnya Bapak kembali menemui adik2 ku. Kontan saya dan adik kandung saya bilang “kalo ada maunya aja melas2 deh.., sampe bawa2 mati segala”.
Hari ke-29 Ramadhan, jam 11 malam Bapak datang dengan wajah pucat berkeringat basah di sekujur tubuhnya, Bapak bercerita bahwa motor yang dipakainya untuk pulang ke rumah bocor dan Bapak mendorong motor sendirian sampai tambal ban terdekat, yang akhirnya saya tahu kalau tambal ban itu jaraknya sekitar 3 km. Saya segera membawa Bapak ke klinik terdekat dan diberikan obat penenang sehingga Bapak bisa tertidur sebentar. Mulut saya ini masih saja berucap “kalo sakit aja pulang, sehat di sana seneng2″.
Hari terakhir Ramadhan, kami berpuasa seperti biasa kecuali Bapak, dari pagi hari Bapak batuk2 dan “maaf” muntah2 tapi suhu badannya normal hingga sore hari. Kami masih diliputi perasaan kesal dan kecewa sama Bapak. Mulai dari siang mamah sudah meminta saya untuk membawa Bapak ke rumah sakit, tetapi Bapak tidak mau dengan alasan, tidak ada dokter yang tugas karena besok lebaran.
Adzan maghrib tanda ibadah puasa selesai, kami segera bebuka puasa. Baru saja kami minum segelas air tiba2 Bapak “maaf lagi” muntah banyak sekali tidak berhenti2, akhirnya saya putuskan untuk membawa ke rumah sakit, tidak perduli Bapak mau atau tidak. Diperjalanan Bapak bilang “ke rumah sakit pasar rebo aja”, kami turuti membawa Bapak kesana. Sesampainya disana Bapak langsung dibawa ke UGD dan kami tidak segera di konfirmasi mengenai penyakitnya. Sekitar jam 01 pagi kami baru di konfirmasi oleh seorang Dokter yang sengaja di datangkan RS hanya untuk memeriksa Bapak. Dokter itu bilang “Bapak ini kena penyakit jantung yang sudah berbahaya, harus segera masuk ruang ICU, tapi kebetulan ICU di RS ini penuh, jadi tolong cari RS lain secepatnya”. Kontan saya dan mamah kaget karena Bapak tidak pernah mengeluh sakit jantung, langsung saya hubungi adik untuk menyebar mencari RS yang ICU nya kosong. Alhamduillah sekitar jam 03 pagi kami mendapatkan tempat di RSCM, tapi kami tidak segera membawa Bapak karena armada RS tidak ada saat itu, namun saat itu egois saya tetap belum bisa dan mau minta maaf kepada Bapak, karena berpikir Bapak itu salah besar.
Sekitar jam 10 pagi Bapak baru bisa dibawa ke RSCM karena menunggu petugas RS selesai Sholat Iedul Fitri dan halal bi halal sebentar. Sampai di RSCM Bapak mendapatkan pemeriksaan dari awal kembali sampai akhirnya di tempatkan di ICU sekitar jam 01 siang. Keluarga besar kami pun berdatangan namun tidak bisa melihat Bapak yang terbaring di ruang ICU. Sekitar jam 02 siang saya dan adik2 saya pun pulang ke rumah, hanya mamah dan sepupu saya yang menunggu di RS.
Jam 02.30 siang saya menyempatkan diri ber halal bi halal ke tempat tetangga dan berucap maafkan Bapak yang tidak sempat bermaaf maafan sekarang.
Jam 03 siang saya kembali ke rumah dan istirahat sebentar sampai akhirnya tertidur bersama adik2 saya.
Jam 05 sore telp berbunyi dan kami acuhkan saja telp itu karena kami benar2 kecapean. Tapi telp itu berbunyi terus, sehingga saya sadar mungkin telp itu dari RS. Dan ternyata benar dari RS, sepupu kami mengabarkan bahwa Bapak telah meninggal. Saya tidak percaya dan segera membangunkan semua adik2 saya untuk segera menyusul ke RS, ternyata benar Bapak sudah meninggalkan kami semua.
Proses demi proses berjalan sampai akhirnya Bapak harus di sholatkan, alhamdulillah atas bantuan tetangga Bapak bisa di sholatkan di Masjid besar daerah kami seusai sholat jumat, dengan jamaah yang mungkin berkisar ratusan bahkan ribuan jamaah masjid. Disitu saya sadar bahwa Bapak benar, Bapak tidak pernah salah sedikitpun, kami yang salah dengan menyisihkan Bapak.
Penyesalan saya tidak pernah berhenti sampai sekarang ini, kenapa saya begitu egois membiarkan Bapak menderita dan sengsara sampai akhirnya mengucilkan diri dengan meniggalkan kami semua.
Setiap Ramadhan datang saya selalu meneteskan air mata mengingat almarhum Bapak yang sengsara di akhir hidupnya.
Maafkan anakmu yang durhaka ini Bapak…, Selamat Jalan Bapak
Tulisan ini saya persembahkan untuk
Bapak Kami Tercinta,
Irwan